MAKNA GRAMATIKAL AFIKS BE- DAN BE-AN
DALAM BAHASA KUTAI UMUM
Lilik Rita Lindayani
Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Haluoleo
Abstrak
Bahasa Kutai juga mengenal berbagai bentuk afiks. Bentuk-bentuk terikat seperti afiks apabila ditambahkan pada bentuk lain (leksem/bentuk dasar) akan mengubah makna gramatikalnya. Begitu pula dengan BKU yang memiliki afiks (be-) dan (be-an) yang produktif dipakai dalam berkomunikasi oleh masyarakat penggunanya.
Penelitian ini berada pada tataran linguistik deskriptif (descriptive linguistics), yaitu suatu metode yang menyelidiki bahasa pada waktu tertentu. Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan memaparkan data secara apa adanya berdasarkan temuan yang ada di lapangan. Dengan demikian, makna gramatikal afiks (be-) dan (be-an) dalam Bahasa Kutai dapat diklasifikasikan melalui posisi, bentuk, dan maknanya.
Hasil analisis menunjukkan, bahwa makna gramatikal afiks be- dan be-an dalam Bahasa Kutai dapat disimpulkan sesuai dengan kelas kata yang dilekatinya. refiks be- + adjektiva menyatakan intensitas tunggal. Bentuk (be-) + adjektiva + sufiks (-an)menyatakan intensitas jamak. Prefiks (be-) + nomina verbal de nomina (berarti mempunyai/memakai). Prefiks (be-) nomina + sufiks (-an) verba jamak (dilakukan lebih dari satu kali atau lebih dari satu orang. Prefiks (be-) + verba membentuk verba intransitif dan refleksif. Jika prefiks (be-) verba ditambah sufiks (-an), maka verba yang terbentuk mengisyaratkan subjek pelakunya jamak. Prefiks (be-) + numeralia menyatakan jumlah. Prefiks (be-)numeralia + sufiks (-an) menyatakan kelompok.
Kata kunci: Bahasa Kutai, makna gramatikal, afiks be- dan be-an.
Pengantar
Bahasa Kutai (BK) adalah salah satu bahasa daerah yang hidup di wilayah provinsi Kalimantan Timur. Daerah Kutai sendiri yang dahulu hanya satu wilayah kabupaten, sejak tahun 1999 dibagi menjadi tiga wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Kutai Kartanegara yang beribukotakan Tenggarong, Kabupaten Kutai Timur yang beribukotakan Sangatta, dan Kabupaten Kutai Barat yang menjadikan Mellak sebagai ibu kotanya.
Sebagian penduduk yang tinggal di wilayah Kutai ini menggunakan bahasa Kutai (BK) sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Sjafran”sebagian besar masyarakat Kutai menggunakan bahasa Kutai dalam beberapa dialek. Sebagai pemersatu berbagai dialek ini ada bahasa Kutai Umum yang pada dasarnya dapat dimengerti dan malah menjadi bahasa pengantar antara penduduk di daerah-daerah tertentu di Kabupaten Kutai.” (Bahrah, 1992).
Beberapa dialek yang dimaksud dalam kutipan tersebut, yaitu bahasa Kutai Dialek Tenggarong, bahasa Kutai Dialek Muara Kaman, bahasa Kutai Dialek Kota Bangun, dan bahasa Kutai Dialek Muara Ancalong. Dari keempat dialek itu yang dianggap sebagai bahasa Kutai Umum (BKU) adalah bahasa Kutai dialek Tenggarong.
Kajian Teori
Sesuai dengan judul kajian teori ini berangkat dari data yang berupa leksem-leksem yang berhubungan dengan makna gramatikal dalam BKU dan teori tentang leksem, afiksasi, dan teori tentang makna gramatikal.
Leksem
Apabila leksem dihubungkan dengan leksikal, maka leksikal adalah bentuk adjektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon (vokabuler, kosakata, perbendaharaan kata). Satuan leksikon adalah leksem, yaitu satuan bahasa yang bermakna. Kalau leksikon disamakan dengan kosa kata atau perbendaharaan kata, maka leksem dapat dipersamakan dengan kata Chaer (1990: 62). Istilah leksem yang dipadankan dengan kata lazim digunakan dalam studi morfologi dan sintaksis. Hanya bedanya, sebagai satuan semantik, leksem dapat berupa sebuah kata atau dapat juga berupa gabungan kata.
Lyons (1977) mengemukakan pengertian leksem dipahami sebagai unit pembeda terkecil dalam sistem semantik suatu bahasa atau satuan formulasi abstrak yang mendasari berbagai bentuk variasi gramatikal. Sederhananya bentuk leksem yang dimaksud adalah kata atau frase yang merupakan satuan bermakna (Kridalaksana: 1984: 144; dan Cruse, 1986:76), (bdk. Dengan Parera, 1994). Oleh karena itu, leksem dapat berupa bentuk dasar (dalam BKU), misalnya, leksem alak ‘ambil’ dan leksem tebak ‘lempar’ bentuk lain, misalnya enjawat ‘memegang-megang’ yang berasal dari bentuk jawat ‘pegang’, yang dapat menjadi satu-kesatuan kata dalam bentuk bejawatan ‘berpegangan’. Dalam bentuk frase, misalnya ngembang labu ‘buah labu mekar’ --- kelanjian ‘genit (untuk anak perempuan)’. Dilihat dari segi maknanya masing-masing leksem mempunyai makna yang berbeda.
Dalam bahasa Indonesia kita dapat membagi leksem sebagai berikut:
Leksem
sebagai suatu satuan semantis

(satuan formulasi abstrak) demonstrativa preposisi konjungsi
Apabila kita perhatikan pembaganan leksem di atas, bentuk dasar (misalnya, kata: meja, sepatu, payung) jelas dapat berdiri sendiri karena memiliki makna otonom. Sedangkan, yang berupa kata tugas hanya bermakna bila muncul bersama kata-kata lain dalam bentuk yang lebih besar yaitu kalimat. Perhatikan bentuk-bentuk berikut ini:
a. Penggabungan bentuk kata tugas
penggabungan kata di atas tidak menimbulkan perubahan makna apapun dan tetap tidak bermakna, kecuali berada dalam satuan yang lebih besar yang disebut kalimat.
b. Penggabungan bantuk dasar
penggabungan bentuk dasar menghasilkan makna yang berbeda.
c. Variasi bentuk dasar dengan afiks
penambahan bentuk afiks menimbulkan variasi makna yang berberda dari bentuk dasarnya. Perhatikan pula bentuk lain yang berada dalam kalimat dibawah ini:
Mereka membuat garis di atas meja. (makna leksikal)
Ini sudah menjadi garis-garis kecil hidupnya.
(lihat pula Djajasudarma, 1993).
Dari contoh serta beberapa teori yang telah disebutkan dapat diambil suatu pemerian, bahwa: 1) ada leksem-leksem calon pengisi dalam abstraksi yang tidak dapat berdiri sendiri; 2) hanya lesem-leksem yang memiliki makna leksikal yang dapat divariasikan secara gramatikal. Baik berupa proses afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.
Makna gramatikal yang akan dibahas dalam hal ini adalah makna gramatikal yang berhubungan dengan proses afiksasi pada leksem pengisi abstraksi dalam BKU yang dapat berdiri sendiri.
Afiksasi
Quirk (1972: 978) mengemukakan bentuk yang berperan serta dipakai pada pembentukan kata disebut bentuk dasar (dibedakan dari stem), dan proses inti pada pembentukan kata dalam bahasa Inggeris, dimungkinkan dengan dasar modifikasi sebagai berikut:
(a)
Penambahan prefix pada bentuk dasar, tanpa atau dengan mengubah kelas kata (mis.: author -- co-author)
1. Afiksasi (affixation)
(b) penambahan sufiks pada bentuk dasar, tanpa atau dengan
mengubah kelas kata (mis.: drive – driver)
2. Perubahan (convertion) bentuk dasarnya memperlihatkan suatu perbedaan kelas
kata tanpa mengubah bentuknya (zero afiksasi, mis.: drive v
– drive n)
3. Penggabungan (compounding) Penambahan sebuah bentuk dasar pada bentuk yang lain
(mis.: tea + pot -- teapot)
Verhaar (1992) mengemukakan pengertian afiksasi (affixation) adalah penambahan dengan afiks (affix). Afiks itu selalu berupa morfem terikat, yang dapat di tambahkan pada awal kata (prefiks), dalam proses disebut prefiksasi. Pada akhir kata (sufiks) dalam proses disebut sufiksasi, untuk sebagian pada awal kata serta untuk sebagian pada akhir kata (konfiks, ambifiks, atau simulfiks).
Samsuri (1994) dalam bukunya Analisis Bahasa mengemukakan afiksasi adalah proses morfologis, yaitu penggabungan akar dengan pokok afiks (-afiks). Pembagian afiks ada tiga macam, yaitu awalan, sisipan, dan akhiran. Awalan dibubuhkan di depan dasar, umpamanya awalan-awalan dalam bahasa Indonesia per-, ter-, meN-, dan lain-lain yang dilekatkan pada bentuk panjang – perpanjang – memanjang – terpanjang.
Parera (1994) juga menyatakan bahwa proses afiksasi terjadi apabila sebuah morfem terikat dibubuhkan atau dilekatkan pada sebuah morfem bebas secara urut lurus. Berdasarkan posisi morfem terikat terhadap morfem bebas tersebut, proses afiksasi dibedakan menjadi atas (1) pembubuhan depan (mis. dlm. BI: di-,per-,ke-,me-), (2) pembubuhan tengah (mis. dlm. BI: -er, -em, -el), (3) pembubuhan akhir (mis. dlm. BI: -kan, -i, -an), pembubuhan terbagi (mis. dlm. BI: ke-an, per-an, ke-i, ber-an).
Selanjutnya, Verhaar juga mengatakan bahwa proses afiksasi amat berbeda-beda dalam berbagai bahasa, dalam bahasa Inggris, misalnya, hanya ada prefiks dan sufiks.
Hal ini, dapat dibandingkan dengan teori yang dikemukakan Bloomfield, bahwa bentuk-bentuk terikat yang pada derivasi sekunder ditambahkan ke bentuk asal disebut afiks, yang mendahului bentuk asal disebut prefix, seperti be- pada be-head: yang mengikuti bentuk asal adalah sufiks, seperti [ez] pada glasses atau ish pada boyish.
Sejalan dengan apa yang dikemukakan Verhaar tentang proses afiksasi dalam berbagai bahasa Eugene A. Nida dalam Morfhology the Descirptive Analysis of Word (1962: 69) menambahkan bentuk afiks suprafiks. Ia mendeskripsikan suprafiks adalah morfem-morfem yang keseluruhannya terdiri atas fonem-fonem suprasegmental yang ditambahkan dalam bentuk root atau stem, dengan contoh bahasa Ngabaka (Afrika).
Berdasarkan pemerian-pemerian di atas tentang proses afiksasi dapat terangkan bahwa afiksasi adalah bagian dari proses modifikasi dasar pada tataran morfologi. Dengan demikian, afiks merupakan modifikator struktur intern suatu kata, karena afiks adalah morfem yang secara struktur terikat penuh dengan bentuk dasar – dalam memodifikasi pembentukan kata, baik berupa infleksi maupun derivasinya.
Pertimbangkan contoh berikut ini:
rumah (Nom) – perumahan (Nom) – dirumahkan (Verb)
dan
malu (Adj) – kemaluan (Nom) – memalukan (Verb)
![]() |
bentuk lain (derivasi/infleksi)
Bahasa Kutai juga mengenal berbagai bentuk afiksasi. Hanya saja, jika dalam bahasa Indonesia bentuk-bentuk prefix (misalnya) jelas mengawali suatu kata (mis.: memukul; mencari; berubah; terpukul, dll.), maka dalam bahasa Kutai prefix umumnya berubah bentuk atau luluh menjadi satu dengan huruf pertama kata yang bersangkutan hingga awalan itu tidak terlihat secara keseluruhan. Lebih lanjut, kita perhatikan bentuk-bentuk afiks be- dan be-an dalam pelekatannya dengan leksem/bentuk dasar BK.
Bentuk afiks dalam BK, seperti halnya pula yang dikemukakan Badudu (1996) tentang bahasa Melayu Klasik juga tak dibedakan antara arti prefix me- dan ber-. Selanjutnya, kita perhatikan bentuk-bentuk pelekatan afiks be- dan be-an pada bentuk dasar/leksem dalam BKU berikut ini.
a. Prefiks (be-) yang melekat pada bentuk dasar/leksem yang dimulai dengan huruf vocal akan menjadi (beq-)
| Leksem/ Bentuk Dasar | Penambahan Prefiks (be-) | Bentuk Turunan | Arti |
| Agak engko’ ipuh obah ujung | (be-) + agak (be-) + engko’ (be-) + ipuh (be-) + obah (be-) + ujung | beqagak beqengko’ beqipuh beqobah bequjung | ‘berdandan’ ‘bersekongkol’ ‘beracun’ ‘berubah’ ‘berujung’ |
b. Prefiks (be-) yang melekat pada leksem/bentuk dasar yang dimulai dengan huruf konsonan akan tetap berupa (be-).
| Leksem/ Bentuk Dasar | Penambahan Prefiks (be-) | Bentuk Turunan | Arti |
| Daun gasing kemul susuk hambur | (be-) + daun (be-) + gasing (be-) + kemul (be-) + susuk (be-) + hambur | bedaun begasing bekemul besusuk behambur | ‘berdaun’ ‘bermain gasing’ ‘berselimut’ ‘memakai susuk’ ‘menghambur’ |
c. Sufiks (-an) akan menjadi (-qan) apabila melekat pada bentuk dasar/leksem yang diakhiri konsonan /k/ dan menyebabkan konsonan tersebut juga menjadi lesap.
Berdasarkan keberadaannya dalam BKU masing-masing leksem/bentuk dasar yang tercatat sebagai data penelitian akan dipisah-pisahkan menjadi beberapa kelompok berdasarkan kelas katanya, guna menentukan makna gramatikal yang dibentuknya.
Makna Gramatikal
Dalam bukunya yang berjudul Language, Bloomfield (1933) terjemahan Soetikno (1995: 164) mengatakan bahwa bentuk-bentuk bahasa yang benar-benar diucapkan selalu mengandung makna gramatikal. Tidak perduli betapa sederhananya bentuk yang kita ambil ambil dan bagaimana kita mengujarkannya, kita sudah mengadakan pemilihan sehingga ujaran tersebut menyampaikan makna gramatikalnya selain makna leksikalnya.
Chaer (1990: 64) mengemukakan, kalau makna leksikal itu berkenaan dengan makna leksem atau kata yang sesuai dengan referennya, maka makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses reduplikasi dan proses komposisi. Proses afiksasi awalan ter- pada kata angkat dalam kalimat Batu seberat itu terangkat juga oleh adik. Melahirkan makna ‘dapat’, dan dalam kalimat Ketika balok itu ditarik, papan itu terangkat ke atas. Melahirkan makna ‘tidak sengaja’.
Makna gramatikal (bhs. Inggris – grammatical meaning; functional meaning; structural meaning; internal meaning) adalah makna yang menyangkut hubungan intra bahasa, atau makna yang muncul akibat berfungsinya sebuah kata dalam kalimat (Djajasudarma, 1993: 13; lihat pula Pateda, 1989: 58). Pada bagian yang sama Djajasudarma juga mengatakan bahwa makna leksikal dapat berubah ke dalam makna gramatikal secara operasional. Dicontohkan dengan ekspresi kalimat berikut.
(1) Polisi memasang belenggu pada kaki dan tangan pencuri yang baru ditangkap itu.
(2) Mereka terlepas dari belenggu penjajahan.
Di bagian lain Parera (1994: 26) memberikan pengertian makna gramatikal sebagai unsur-unsur makna yang berbeda dalam salah satu paradigm infleksional. Sedangkan makna bentuk dasar yang tetap mantap dalam paradigma itu disebut makna leksikal. Misalnya, makna ‘ibu’ (nom) dan ‘keibuan’ (adj) adalah makna leksikal dan makna morfem terikat adalah makna gramatikal.
Dengan demikian, bentuk-bentuk terikat seperti afiks apabila ditambahkan pada bentuk lain (leksem/bentuk dasar) akan mengubah makna gramatikalnya. Begitu pula dengan BKU yang memiliki afiks (be-) dan (be-an) yang produktif dipakai dalam berkomunikasi oleh masyarakat penggunanya.
Metode Penelitian
Penelitian ini berada pada tataran linguistik deskriptif (descriptive linguistics), yaitu suatu metode yang menyelidiki bahasa pada waktu tertentu (Kridalaksana 1984: 116). Dengan pertimbangan bahwa oreantasi penyelidikan makna kata terus berkembang seiring dengan berkembangnya jumlah kosa kata umumnya dalam BK khususnya kosa kata yang berhubungan dengan makna gramatikal dalam BKU. Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan memaparkan data secara apa adanya berdasarkan temuan yang ada di lapangan.
Pembahasan
Berdasarkan pada pemerian pada teori-teori yang dikemukakan dalam penelitian ini, maka diperoleh gambaran penggunaan afiks be- dan be-an dalam BKU. Seperti diperlihatkan pada contoh data berikut ini.
| Leksem/ Bentuk Dasar | Penambahan Prefiks (be-) | Bentuk Turunan | Arti |
| Bengal habok koros kijil molek | (be-) + bengal (be-) + habol (be-) + koros (be-) + kijil (be-) +molek | bebengal behabok bekoros bekijil bemolek | ‘semakin tuli’ ‘semakin pudar’ ‘semakin kurus’ ‘semakin genit’ ‘semakin cantik’ |
| Leksem/ Bentuk Dasar | Penambahan sufiks (-an) | Bentuk Turunan | Arti |
| bebengal behabok bekoros bekijil bemolek | bebengal + (-an) behabok +(-an) bekoros + (an) bekijil + (an) bemolek + (an) | bebengalan behabokan bekorosan bekijilan bemolekan | ‘semakin tuli’ ‘semakin pudar’ ‘semakin kurus’ ‘semakin genit’ ‘semakin cantik’ |
Contoh kalimat:
(1) Kanak ni bebengal.
Nom ini pref+tuli
‘anak ini semakin tuli’
(2) Sida bebengalan.
P3 konf+tuli
‘mereka semakin tuli’
| Leksem/ Bentuk Dasar | Penambahan Prefiks (be-) | Bentuk Turunan | Arti |
| Anak Cangkol Kias Kasut Payong | (be-) + anak (be-) + cangkol (be-) + kias (be-) + kasut (be-) + paying | beqanak becangkol bekias bekasut bepayong | ‘mempunyai anak’ ‘memakai cangkul’ ‘menyapu’ ‘memakai sepatu’ ‘memakai payung’ |
satu kali atau lebih dari satu orang
| Leksem/ Bentuk Dasar | Penambahan sufiks (-an) | Bentuk Turunan | Arti |
| Anak cangkol kias kasut payong | beqanak + (-an) becangkol + (-an) bekias + (-an) bekasut + (-an) bepayong + (-an) | beqanaqan becangkolan bekiasan bekasutan bepayongan | ‘mempunyai anak lebih dari satu’ ‘mencangkul berulang-ulang’ ‘menyapu berulang-ulang’ ‘bersepatu’ (lebih dari satu orang) ‘memakai payung’ (lebih dari satu orang) |
(3) Aku bekasut kendia.
P1 pref+sepatu nanti
‘aku nanti memakai sepatu’
(4) Kami bekasutan narinya.
P1:J konf+sepatu menarinya
‘kami semua memakai sepatu ketika menari’
| Leksem/ Bentuk Dasar | Penambahan prefiks (be-) | Bentuk Turunan | Arti |
| Acak tandik periak | (be-) + acak (be-) + tandik (be-) + periak | Beqacak betandik beperiak | ‘berdandan’ ‘melompat-lompat’ ‘berteriak’ |
b. Jika prefiks (be-) verba ditambah sufiks (-an), maka verba yang terbentuk
mengisyaratkan subjek pelakunya jamak
contoh:
(5) Aku beqacak.
P1 pref+dandan
‘aku berdandan’
(6) Sida beperiakqan.
P3 berteriak-teriak
‘mereka berteriak-teriak’
| Leksem/ Bentuk Dasar | Penambahan prefiks (be-) | Bentuk Turunan | Arti |
| Dua tiga empat | (be-) + dua (be-) + tiga (be-) + empat | Bedua betiga beqempat | ‘berdua’ ‘bertiga’ ‘berempat’ |
| Leksem/ Bentuk Dasar | Penambahan prefiks (be-) | Bentuk Turunan | Arti |
| Dua tiga empat | be dua + (-an) betiga + (-an) beqempat + (-an) | Beduaqan betigaqan beqempatan | ‘berduaan’ ‘bertiga’ ‘berempat’ |
Bandingkan dalam bentuk kalimat:
(7) Wadah ni sida bedua nya berempu.
Tempat ini P3 berdua yang memiliki
‘tempat ini milik mereka berdua’
(8) Sida duduk betigaqan
P3 duduk konf+tiga
‘mereka hanya duduk bertiga’
Catatan:
Bentuk konfiks (be-an) pada numeralia hanya lazim digunakan untuk bilangan satu sampai sembilan. Selebihnya biasanya dipergunakan kata bantu bilangan (numeral classifier). Misalnya, tubuh sepuluh ‘sepuluh orang’, sebelas bintir ‘sebelas batang’ seribu buting ‘seribu biji’.
Kesimpulan
Berdasarkan data pada pembahasan makna gramatikal afiks be- dan be-an dalam Bahasa Kutai dapat disimpulkan sesuai dengan kelas kata yang dilekatinya, sebagai berikut:
satu kali atau lebih dari satu orang
b. Jika prefiks (be-) verba ditambah sufiks (-an), maka verba yang terbentuk
mengisyaratkan subjek pelakunya jamak
Daftar Pustaka
Badudu, J.S. 1976. Morfologi. Bandung: Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.
Bahrah, Ahmad. 1992. Kamus Bahasa Daerah Kutai Umum-Indonesia. Tenggarong:
Lembaga Pembinaan Kebudayaan Kutai.
Bloomfield, Leonard. 1995. Language (terjemahan Soetikno). Jakarta: Gramedia.
Chaer, Abdul. 1990. Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Djajasudarma, T. Fatimah. Semantik II (Pemahaman Ilmu Makna). Bandung: Eresco.
Kridalaksana. Harimurti. 1986. Beberapa Prinsif Perpaduan Leksem dalam Bahasa
Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.
Lyons. John. 1977. Semantics I & II. Cambrige. Cambrige University Press.
Quirk, Randolph, 1985. Grammar of Contemporary English. Essex: Longman. Ltd. Press.
Ramlan. 1997. Morfologi (Suatu Tinjauan Deskriptif). Yogyakarta: Karyono.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar